*اللهم صلى على سيدنامحمد * اللهم صلى على سيدنامحمد * اللهم صلى على سيدنامحمد *
Tiga sifat manusia yang merusak adalah, kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan. – Nabi Muhammad Saw

Recent Coment

Tampilkan postingan dengan label Terong Gosong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terong Gosong. Tampilkan semua postingan

ANTARA ALI BIN ABI THALIB DAN ALI BIN MA'SHUM (TERONGGOSONGIZED)


Mbah Kyai Ali Ma’shum rahimahullah terlahir dengan kecerdasan istimewa. Pada usia remaja, beliau sudah menjadi amat ahli dalam bahasa dan sastra Arab. Kefashihan beliau sulit dicari tandingannya. Pada usia 18 tahun, sewaktu mondok di Termas, Pacitan, dibawah asuhan Kyai Dimyathi rahimahullah, Kyai Ali diberi hak untuk mengajar di Masjid pondok. Suatu previles yang tidak didapatkan bahkan oleh santri-santri yang jauh lebih senior. Bukan karena Kyai Ali putera seorang kyai besar (Mbah Kyai Ma’shum, Lasem). Dari segi nasab, Kyai Ali masih “kalah bobot” dibanding, misalnya, Kyai Abdul Hamid (Pasuruan) yang pada waktu itu juga mondok bareng di Termas. Previles itu diberikan sebagai pengakuan atas ke’aliman Kyai Ali. Di kemudian hari, Kyai Ali Ma’shum pun diakui sebagai kyai ahli Ilmu Tafsir paling otoritatif pada masanya.

Tidak heran jika, sesudah trio pendiri Nahdlatul Ulama (Hadlratusy Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Abdul Wahab Hasbullah dan Kyai Bisri Syansuri) “habis” dengan wafatnya Kyai Bisri Syansuri, semua kyai yang hadir dalam Kombes NU 1981 di Kaliurang, Yogyakarta, secara aklamasi menyetujui usul Kyai Achmad Siddiq (Jember) untuk mendaulat Kyai Ali Ma’shum sebagai Rais ‘Aam menggantikan Kyai Bisri Syansuri. Semula Mbah Ali menolak. Tapi semua kyai mendesak beliau bertubi-tubi. Dari pagi hingga malam Gus Mus menunggui di kediaman beliau di Krapyak, dengan tekad tak akan beringsut sebelum beliau menyatakan kesediaan. Dengan berlinangan air mata, Mbah Ali akhirnya menyerah.

“Aku tak mau jabatan”, beliau berkata, “tapi agama melarangku menghindari tanggung jawab…”

Selanjutnya, Kyai Ali Ma’shum pun menjadi patron dari gairah pembaharuan NU. Beliau pelindung utama —kalau bukan satu-satunya— anak-anak muda yang getol dengan pembaharuan, ketika gagasan-gagasan kreatif mereka memanaskan telinga kebanyakan kyai karena dianggap terlampau berani.

Barangkali orang masih ingat, bagaimana Kyai As’ad Syamsul Arifin, Situbondo, suatu ketika merasa tak kuat lagi menenggang “keliaran” Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU sehingga hubungan diantara keduanya tegang luar biasa. Kyai As’ad memanggil Kyai Muhith Muzadi ke Situbondo.

“Tolonglah”, beliau berujar kepada Kyai Muhith, “sampiyan ingatkan Abdurrahman itu… dia sudah kelewatan”.

Kyai Muhith angkat tangan.

“Kok saya to, ‘Yai” jawabnya, “mestinya kan yang sepuh-sepuh seperti panjenengan yang lebih berhak…”

“Wah, saya ’dak biisa… yang bisa itu Kyai Ali Ma’sum!”

Pada kesempatan lain, Kyai As’ad mengundang kyai-kyai berkumpul di Surabaya. Mbah Kyai Ali Ma’shum berhalangan, hanya mengutus Abdurrahman, seorang santri Krapyak asal Pasuruan, membawa surat beliau untuk para kyai yang hadir di Surabaya.

“Kalau rapat kyai-kyai itu sudah selesai, serahkan surat ini kepada Kyai As’ad dan sampaikan bahwa saya minta surat ini dibacakan didepan majlis”. Demikian pesan Mbah Ali.

Rapat itu rupanya membahas Gus Dur dengan segala kembelingannya, sehingga akhirnya kyai-kyai sepakat untuk membuat petisi, menuntut Gus Dur mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU.

Abdurrahman Pasuruan patuh, begitu rapat hendak ditutup, ia beranikan diri menyerobot kehadapan Kyai As’ad untuk menyerahkan surat titipan Mbah Ali berikut pesan beliau. Surat yang kemudian benar-benar dibaca didepan majlis itu ternyata berisi pernyataan tegas bahwa Mbah Ali menolak pemberhentian Gus Dur dari jabatannya. Kyai As’ad tak punya pilihan.

“Kalau Kyai Ali Ma’shum ’dak setuju… saya ’dak berani…”

Keputusan rapat pun batal.

Sebagai Rais ‘Aam, walaupun hanya separuh masa bakti (1982 – 1984), Mbah Kyai Ali Ma’shum berhasil mengantarkan NU melewati masa transisi dari NU-politik ke NU-kultural. Perjalanan menuju deklarasi “Kembali ke Khittah NU 1926” pada Muktamar Situbondo (1984) berhutang sepenuhnya pada jasa kepemimpinan beliau. Itu memang bukan perjalanan yang mudah. Di tengah-tengahnya, konflik besar yang mengguncang antara kubu kyai-kyai dan kubu para politisi (Situbondo versus Cipete) harus dilalui dengan segala pahit-getirnya. Sampai-sampai seorang kyai muda berani melontarkan keluhan berbau protes ke hadapan Mbah Ali.

“Selama kepemimpinan tiga Rais ‘Aam sebelumnya, NU adem-ayem, bersatu penuh harmoni”, kata kyai muda itu, “tapi setelah panjengan jadi Rais ‘Aam… kok terjadi perpecahan begini?”.

Mbah Ali tersenyum bijak.

“Bagus sekali kamu bertanya begitu”, ujar beliau, “pertanyaanmu itu persis yang dilontarkan orang kepada Sayyidina ‘Ali”.

Maka Mbah Ali pun meriwayatkan keluhan orang kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, bahwa pada masa kepemimpinan tiga Khulafa Ar Rasyidin sebelum beliau (Saadaatina Abu Bakar, Umar ibn Al Khatthab dan ‘Utsman ibn ‘Affan radliyallahu ‘anhum) tidak terjadi perpecahan ummat seperti pada masa kekhalifahan Sayyidina ‘Ali.

Bagaimana jawaban Sayyidina ‘Ali?

“Pada masa beliau bertiga itu, yang dipimpin adalah orang-orang macam aku, sedangkan sekarang ini yang kupimpin adalah orang-orang macam kamu!!”
oleh Terong Gosong

    
    Baca Juga :
Baca Selengkapnya...

MEMBAHASAARABKAN MAHAR (THE TERONG GOSONG: RELOADED)


Dalam sebuah halaqah yang dihadiri oleh kyai-kyai besar, Almarhum Nurcholish Madjid melontarkan kritikan tajam,

"Bertahun-tahun bahasa Arab diajarkan di pesantren", katanya, "tapi sedikit sekali, bahkan diantara kyai-kyainya, yang mempu mempergunakan bahasa Arab secara aktif. Pasti ada yang salah dalam metode pengajarannya!"

Kyai Badri Masduqi Probolinggo Allah yarham --lahumal faatihah-- langsung mengacungkan jari,

"Pak Doktorandus!" beliau menyergah tanpa menunggu dipersilahkan oleh moderator, "kyai-kyai dan santri-santri pesantren belajar bahasa Arab itu keperluannya untuk berkomunikasi dengan tokoh-tokoh Islam seperti Imam Syafi'i, Imam Ghozali dan lain-lain. Untuk memahami kitab-kitab karya mereka. Jadi tidak perlu bisa ngomong pakai bahasa Arab seperti Sampiyan. Buat apa? Lha wong tetangganya orang Jawa semua!"

Rupanya benar yang dikatakan Kyai Badri Masduqi, kebanyakan kyai pesantren mempelajari bahasa Arab hanya sebatas untuk memahami kitab-kitab yang dipelajari di pesantren. Hal-hal yang tidak dibicarakan didalam ktab-kitab itu, biasanya kyai-kyai tak tahu bahasa Arabnya.

Mbah Kyai Ngaspani Allah yarham diminta menjadi wakil wali pernikahan putri Pak Daya', salah seorang santri kalongnya. Sebelum mulai akad, Mbah Ngaspani terlebih dahulu menawarkan kepada si calon mantu,

"Pakai bahasa Arab, Jawa, atau Melayu?"

"Arab, Mbah", si calon mantu mantap.

Mbah Ngaspani pun bertanya lebihh lanjut,

"Maharnya apa?"

Sudah nasibnya Pak Daya', calon mantunya itu rupanya seorang santri yang sungguh mbeling.

"Gunting!" jawabnya.

Mbah Ngaspani tercekat. Bukan saja karena maharnya itu yang aneh. Lebih dari itu, "gunting" hampir tak penah disebut-sebut di kitab-kitab kuning, sehingga Mbah Ngaspani tak ingat bahasa Arabnya. Ia menengok kanan-kiri, kalau-kalau ada yang bisa dimintai bantuan. Tapi semua orang, termasuk kyai-kyai yang hadir, menunduk khusyuk. Gus Mus malah sibuk sendiri, mengorek-ngorek pipa rokoknya dengan sobekan kardus tempat suguhan penganan.

Tak ada pilihan lain, Mbah Ngaspani pun memulai shighot ijabnya,

"...Ankahtuka wa zawwajtuka... makhthuubataka...", suaranya agak terbata-bata, sambil memutar otak habis-habisan, berusaha mengingat-ingat bahasa Arabnya gunting..., "Fulaanah binta Daya'... muwakkili..."

Hingga sampailah saatnya mahar itu harus disebutkan,

"...bimahri....... GUNTING... haalan!"
oleh: Terong Gosong

    
    Baca Juga :
Baca Selengkapnya...

ANTARA BUNGKUS DAN ISI


الأعمال صور قائمة وأرواحها وجود سر الإخلاص فيها

(Amal itu [barulah] merupakan sosok yang siaga. Nyawanya adalah eksistensi rahasia ikhlas didalamnya)

-- Asy Syaikh Muhammad ibn 'Athoillah As Sakandary

Amal itu bungkus, rahasia ikhlas (kalau ada) isinya.

Haji Saiful Mudjab, Yogya, muballigh andalan warga NU pada masanya. Seusai pengajian, suatu kali, shohibul hajat tidak hanya menyelipkan amplop ke tangannya, tapi masih ditambah dua kardus berkat: yang satu besar, satunya lagi kecil.

Sesampainya di rumah, Pak Saiful Mujab memberikan kardus berkat yang kecil kepada sopirnya.

"Nih! Jatahmu!" katanya. Toh si sopir baru beranak satu. Tak banyak mulut yang menunggunya di rumah.

"Terimakasih, Yai!" jawab sopir, lalu buru-buru pulang setelah memasukkan mobil ke garasi, karena sudah larut malam.

Pak Saiful Mujab sendiri, seperti biasanya kalau pulang bawa berkat, segera membangunkan anak-isterinya sendiri,

"Berkat! Berkat!" ia sengaja mengeraskan suara.

Sembari masih mengucek-ucek mata, anak isteri pun merubung kardus besar yang diletakkan diatas meja makan. Dari ukurannya saja kelihatannya menggiurkan. Nyai Saiful membagikan piring-piring, lalu membuka tali rafia yang mengikat berkat itu.

"Haahh?!!!" mereka terhenyak hampir serempak.

Kardus itu hanya berisi nasi putih tanpa lauk sama sekali!

Dalam perjalanan mengantarkan Pak Saiful Mujab pada pengajian kali berikutnya, Sopir membuka bicara,

"Shohibul hajat yang kemarin itu royal sekali ya, Pak Kyai!" katanya, "jatah saya saja satu ingkung bakar seekor utuh! ... Kalau lihat ukuran kardusnya, jatah Pak Kyai pasti paling tidak tiga!"

Pak Saiful Mujab diam seribu bahasa...

Para pemimpin sejumlah "negara Islam paling berpengaruh" bertemu di Doha, Qatar, 2001. Diantara mereka adalah Presiden Abdurrahman Wahid dari Republik Indonesia. Mereka bersepakat untuk menggalang pertemuan rutin diantara mereka secara berkala demi meningkatkan kerja sama multilateral dan membicarakan berbagai permasalahan yang melanda dunia Islam pada umumnya. Telah mereka sepakati pula bahwa pertemuan berikutnya akan diselenggarakan di Jeddah, Arab Saudi. Hanya saja, masih ada perdebatan antara Pangeran Abdullah dari Arab Saudi dan Presiden Pervez Musharaf dari Pakistan. Pangeran Abdullah menganggap cukup pertemuan Jeddah yang akan datang itu disepakati saja tanpa harus disebut secara eksplisit dalam deklarasi yang akan mereka umumkan. Pervez Musharaf ngotot agar hal itu disebut, untuk "menjamin komitmen semua pihak". Keduanya berdebat begitu sengit sehingga Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Raja Qatar yang memimpin pertemuan mengalami kesulitan untuk menengahi.

Akhirnya, Presiden Abdurrahman Wahid angkat bicara.

"Ini soal bungkus dan isi", kata Presiden, "Deklarasi itu bungkus, komitmen kitalah isinya. Marilah kita semua lebih mengedepankan isi. Karena isi itu biasanya lebih penting daripada bungkusnya. Contohnya: BH!"

Semua orang tertawa tergelak-gelak. Sheikh Hamad yang sedang iseng meremas-remas kertas sampai tak sadar melempar kertas itu ke arah Presiden. Lalu buru-buru berdiri, menghampiri Presiden, minta maaf berluang-ulang sambil mengelus-elus pundaknya.

Gelak tawa lebih ramai lagi, menandai dipungkasnya perdebatan.


oleh Terong Gosong

    
    Baca Juga:
Baca Selengkapnya...

IRODAH


"Doa itu mustajab kalau disertai irodah", kata Kiyai Misbah Mustofa. "Irodah" artinya kehendak.

Seseorang datang kepada Kiyai Mubin Shoimuri rohimahullah di Pondok Pesantren As Siroj, Penularan, Solo.

"Saya mohon pangestu, 'Yai".

Kiyai Mubin acuh tak acuh,

"Minta pangestu kok sama saya".

"Saya mohon didoakan agar bisa segera naik haji".

Kiyai Mubin terdiam beberapa saat, lalu tiba-tiba beranjak melongok ke jendela.

Di tepi jalan depan rumah, terparkir sebuah mobil Suzuki Carry yang kinclong. Plat nomornya masih "XX", pertanda mobil baru keluar dari toko. Penampilannya kontras sekali dengan mobil milik Kiyai Mubin sendiri di pelataran, yang sama merek dan tipenya, tapi sudah mblakrak laksana kompor dikasih roda.

"Itu mobil punya siapa?" Kiyai Mubin menunjuk mobil baru.

"Punya saya, 'Yai".

"Berapa kamu beli?"

"Sekitar 50 juta".

"Bawa masuk! Tukeran sama punyaku. Nanti kamu aku kasih duit cukup buat naik haji!"

Tamunya melongo.

"Wah... ya jangan, 'Yai..."

Kiyai Mubin mencureng,

"Kamu ini katanya pengen naik haji, punya duit kok malah buat beli mobil!"

oleh Terong Gosong


    
    Baca Juga:
Baca Selengkapnya...

SYAFA'AT



Kita semua mengharapkan syafa'at Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Bagaimana "mekanisme" syafa'at itu sendiri?

Kalutnya lautan manusia di hari pemakaman Gus Dur membuat Gus Mus tak sempat mengurus sandalnya sendiri seusai menyalati janazah di masjid. Bersama keluarga Gus Dur, Gus Mus harus langsung menyertai janazah masuk ke area upacara pemakaman, sementara sandalnya tercecer berikut menantunya yang memungut tanggung jawab atas sandal itu.

Menjelang upacara pemakaman dimulai, Rizal, si menantu, kemecer untuk mengikutinya.

"Tapi pasti sudah nggak boleh masuk ini...", keluhnya.

"Lha kamu kan bawa sandalnya Gus Mus!" Kiyai Mu'adz Thohir mengingatkan.

"Terus?"

"Tunjukkan saja sama yang jaga pintu".

Rizal mengikuti saran Kiyai Mu'adz, dan penjaga pun membiarkannya masuk.

Itulah syafa'atnya sandal.

Sholluu 'alan Nabiy!

oleh  Terong Gosong


    
    Baca Juga:

Baca Selengkapnya...

SIMPANAN

MBAH MA'SHUM LASEM
Mbah Harun seorang nelayan dari Desa Karangmangu, Sarang. Ia punya sebuah perahu kecil yang biasa disebut "cukrik". Tiap hari ba'da shubuh ia berangkat melaut, pulang sekitar waktu dluha. Yang ia peroleh hari itu ya untuk nafkah hari itu. Sore hari, Mbah Sintho', isterinya, biasa berkunjung ke tetangga-tetangga, terutama yang kelihatan kurang berpunya. Kalau ada rejeki yang lebih dari kebutuhan sampai esok pagi, kelebihan itu ia serahkan kepada yang membutuhkan. Mbah Sintho' tidak suka menyimpan-nyimpan.

Semua anak-anak Mbah Harun dan Mbah Sinto', yaitu Umar Harun, Kholil Harun, Fadlil Harun dan Shodiq Harun, di kemudian hari menjadi pengabdi ilmu-ilmu agama dan menurunkan dzurriyyah yang mengabdi kepada ilmu-ilmu agama pula.

Di Pesantren Soditan, Lasem, Haflah Mauludiyyah adalah kegiatan rutin. Tanpa diminta, biasanya beberapa hari sebelum acara akan berdatangan macam-macam hantaran dari masyarakat sekitar, berupa beras, bumbu-bumbu, jajanan, bahkan kambing dan sapi. Hanya saja, hari itu seseorang mengirimkan beras terlalu banyak dan terlalu dini, sehingga Nyai Nuriyah, isteri Kiyai Ma'shum, kerepotan menyimpannya. Apalagi waktu itu pas Nyai Nuri hendak pergi untuk suatu keperluan, sedangkan Kiyai Ma'shum belum turun dari langgar, mengajar santri. Nyai Nuri pun menyuruh menumpuk begitu saja karung-karung beras itu didekat dapur, kemudian pergi meninggalkan rumah.

Turun dari langgar usai mengajar, Kiyai Ma'shum kaget melihat tumpukan karung-karung itu. Nyai Nuri belum pulang.

"Dari mana ini?"

"Tadi ada orang ngirim", santri ndalem menjawab.

"Untuk apa?"

"Tidak tahu... Nyai tidak berpesan apa-apa..."

Kiyai Ma'shum kelihatan tidak senang.

"Bagi-bagikan ke tetangga sana! Semuanya!"

Tak ada yang membantah.

Semua karung habis, Kiyai Ma'shum belum puas. Beliau lihat di pojok dapur masih ada karung teronggok, meskipun hanya separoh isinya.

"Itu! Bagikan sekalian!" perintahnya.

Nyai Nuri yang baru pulang kemudian ganti kaget.

"Karung-karung beras tadi mana?"

"Kusuruh bagi-bagikan!" suara Kiyai Ma'shum ketus.

"Lho?"

"Numpuk beras banyak-banyak begitu buat apa?" Kiyai Ma'shum kentara gusarnya, "banyak orang lain yang butuh kok!"

Nyai geleng-geleng kepala.

"Bukannya numpuk, Pak", ia menjelaskan, "itu sumbangan orang untuk muludan..."

Kiyai Ma'shum tercingak.

"Aku nggak tahu..."

Tak berkata apa-apa lagi, Nyai masuk dapur untuk menyimpan buntalan entah apa yang dibawanya.

"Lho?!" terdengar lagi seruan kagetnya, "karung yang di pojokan sini mana?"

"Kusuruh bagikan sekalian".

Nyai bengong.

"Lha yang buat diliwet besok apa?"

"Ngliwetnya besok kok sekarang sudah nanya..." Kiyai Ma'shum tenang...
oleh Terong Gosong pada 06 Januari 2011

   Baca Juga:
http://kumpulblogger.com
Baca Selengkapnya...

HAKIKAT IKHLAS

Kami, aku dan kakakku Kiai Cholil Bisri, mendengar dari guru kami Syeikh Yasin Al-Fadani dan ayah kami Kiai Bisri Mustofa --rahimahumuLlah,
masing-2 berkata:
Aku bertanya kpd Sayyid Guru Umar Hamdan ttg  
hakikat IKHLAS,

dan beliau pun berkata:
Aku pernah bertanya kpd guruku Syeikh Sayyid Muhammad Ali Al-Witri ttg hal itu dan beliau berkata,
Aku pernah bertanya ttg hal itu kpd guruku Syeikh Abdul Ghani Al-Mujaddidi, beliau berkata:
Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Muhammad Abid As-Sindi Al-Anshari, beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Shiddiq bin Ali Al-Mizjaji, beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku, beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Hasan Al-Ujaimi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad al-Qasysyasyi, beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad Syanaawi, beliau berkat:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku Syeikh Ali Asy-Syanaawi, dan beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani dan beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Al-Haafizh Jalaluddin As-Suyuthi, beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada  A'isyah binti Jaarullah bin Shaleh Ath-Thabari, beliau  berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu 
kepada Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Shiddiq dan beliau berkata:

Aku bertanya ttg hal itu kpd Syeikh Abul Abbas Al-Hajjar dan beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Jakfar Ibn Ali AL-Hamdani, beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abul Qasim bin Basykual, beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Qadhi  Abu Bakar bin aL-'Arabi, beliau berkata:
Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ismail bin Muhammad Al-Fadhal Al-Ashbihani, beliau berkata:
Aku pernah menanyakan halitu kepada Syeikh Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Khalaf dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abdurrahman Al-Baihaqi dan beliau berkata:

Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Sa'id Ats-Tsaghrai dan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Zakaria dan  beliau berdua berkata:
Kami pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Ibrahim Asy-Syaqiqi dan beliau berkata:
Aku pernaha menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Ya'qub Asy-Syaruthi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh AHmad bin Ghassan dan beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad bin 'Atha' Al-Hujaimi, beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahid bin Zaid dan beliau berkata:
Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Imam Hasan Al-Bashari, beliau menjawab,

Aku pernah bertanya kepada shahabat Hudzaifah r.a, beliau menjawab:
Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW ikhlas itu apa, beliau menjawab:
Aku pernah menanyakan ttg ikhlas itu kpd malaikat Jibril a.s dan  beliau menjawab:

Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Allah Rabbul 'Izzaah, dan IA menjawab:

"IKHLAS ialah RAHASIA di antara rahasia-rahasiaKU yg KUtitipkan di hati hambaKU yg AKu cintai."

oleh Simbah Kakung pada 25 Desember 2010


     Baca Juga:
http://kumpulblogger.com
Baca Selengkapnya...

Iman dan Syukur: Buktikanlah!

Bisakah dipercaya, orang yang mengatakan bahwa ia meyakini kebenaran dan keunggulan sesuatu, namun pada saat yang sama ia mengabaikan dan meninggalkannya sama sekali padahal ia dapat melakukannya? Tidak. Dia sama sekali tidak membuktikan keyakinannya.

Demikianlah,

Seseorang akan memercayai bahwa ia betul-betul dicintai jika dirinya mendapat perhatian dari orang yang mengaku kekasihnya itu. Jika tidak, kepercayaannya akan sirna sama sekali. Harapan terbesar pencinta hanyalah mendapatkan balasan cintanya, dan ketakutan terbesar pencinta adalah ditolaknya cinta dari Sang Kekasih, bukan?

Sementara itu.......

Allah selalu mendahului "selangkah" di depan hamba-Nya. Allah bergegas datang, dengan gembira menyambut hamba yang menemui-Nya, bahkan, lebih segera dari pada hamba-Nya.

“Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika dia mendekat kepada-Ku satu hasta, aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.” (HR Muslim).

Karena, “Sudah menjadi kewajiban-Ku untuk mencintai hamba-Ku,” firman-Nya.

Allah me-"wajib"-kan diri-Nya!!!

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

Karunia sebesar itu, bagaimana mungkin hamba membalas-Nya?

“Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS Al-Baqarah:186)

--------o0o------

Bagaimana mungkin seorang hamba yang beriman bersikap tidak peduli terhadap segala “harapan”-Nya padahal mengetahui Dia sangat dekat. Tidak jugakah ia ingin mendekati-Nya? Tak inginkah ia selalu mendapat “perhatian”-Nya?

Seseorang yang beriman kepada Allah dan mencintai-Nya dengan sepenuh hati tentunya tak akan menyia-siakan segala kasih sayang Allah yang sudah dicurahkan kepadanya sepanjang hidupnya. Dia akan membuktikan cinta dan keyakinannya dengan berusaha sungguh-sungguh memenuhi harapan Kekasihnya. Bukti percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan dicintai dengan sepenuh hati adalah dengan kesediaan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Itulah cara membuktikan keimanannya dan membalas “cinta”-Nya. Jika tidak, ia belumlah dikatakan beriman dengan sebenarnya.

Lagi pula, atas semua rahmat dan karunia nikmat melimpah yang telah diberikan, tidakkah kita ingin menjadi hamba yang tahu berterimakasih?

“Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik."
(QS Al-An’am:79)

"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam; tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”
(QS Al-An’am:162-163)


wallahu a'lam
oleh Adib Machrus pada 30 Juni 2009

     BacaJuga:
KumpulBlogger.com
Baca Selengkapnya...

GURUNYA GUS KARIM

Kisah berikut ini diceritakan kepada saya oleh Kiyai Mu’adz bin Thohir bin Nawawi, Kajen, Pati:

Hadlratusy Syaikh Hasyim Asy’ari menitipkan puteranya, Abdul Karim Hasyim, yang masih kanak-kanak,  kepada Kiyai Nawawi agar dapat belajar kepada kiyai-kiyai Kajen. Baru tujuh hari tinggal di rumah Kiyai Nawawi, Gus Karim pamit boyong,

“Ngaji saya sudah khatam… katanya sudah boleh pulang…”.

Kiyai Nawawi bingung. Ia belum mulai mengajar Gus Karim sama sekali dan sepengetahuannya Gus Karim juga belum ikut mengaji kepada kiyai Kajen lainnya.

“Awakmu ngaji apa, Gus?” Kiyai Nawawi bertanya.

“Jurumiyyah”.

“Yang mengajar siapa?”

“Tidak tahu… orang tua…”, Gus Karim menggambarkan guru yang mengajarnya.

Kiyai Nawawi manggut-manggut,  menyembunyikan rasa kagetnya. Gus Karim pun dilepas kembali ke Tebuireng.

Beberapa waktu kemudian, Kiyai Hasyim tiba-tiba datang ke Kajen, membuat kelabakan semua orang. Kiyai Nawawi-lah yang dituju.

“Kenapa anakku kau pulangkan, Kang?” Kiyai Hasyim menggungat, “padahal dulu Thohir kau titipkan kepadaku juga kuterima…”

Kiyai Nawawi tak enak hati.

“Bukannya saya pulangkan, ‘Yai… tapi kayaknya Gus Karim itu sudah cukup ngajinya”.

“Lho. Cuma seminggu itu memangnya kau ajari apa?”

“Bukan saya yang ngajar, ‘Yai”.

“Lha siapa?”

“Mbah Mutamakkin…”

     Baca Juga: 
KumpulBlogger.com

Baca Selengkapnya...

DIPLOMASI KETAWA VII: PRESIDEN TERONG



Malam itu, sidang terakhir KTT OKI di Doha, Qatar, berlangsung hingga agak larut. Sekitar jam 11 malam waktu setempat baru usai. Keluar ruang sidang, Presiden Abdurrahman Wahid kelihatan capai sekali. Padahal sepuluh menit lagi upacara penutupan.

"Aku nggak kuat lagi ini", kata Presiden, "aku mau langsung tidur saja. Biar Yahya yang nggantiin ikut penutupan!"

Semua orang melongo, tapi tak ada yang berani membantah.

Di ruang sidang saya bingung: hanya dua kursi tersedia, satu untuk Presiden, satunya lagi untuk Menteri Luar Negeri.

"Saya duduk dimana, Pak Alwi?"

"Ya di situ!" Pak Alwi Shihab menunjuk kursi Presiden.

"Itu 'kan ada tagnya Presiden RI... kita tukeran aja deh...", saya merengek.

"Nggak bisa! Saya Menteri Luar Negeri. Harus duduk di kursi saya sendiri!"

Saya celingak-celinguk. Para Kepala Negara sudah duduk dengan anggunnya di singgasana masing-masing. Kecut hati saya. Pantat saya cuma kelas kendil. Mana pantas ditaruh di singgasana semulia itu?

"Perintah Presiden begitu, ya harus ta'at dong!" Pak Alwi mendesak.

Upacara hendak dimulai dan tak ada waktu untuk berdebat lagi. Saya terpaksa duduk dengan pantat yang minggrang-minggring.

Dibelakang podium utama yang megah, terpasang layar tivi real time sepenuh dinding. Ditengah pidato penutupan oleh Raja Qatar, tiba-tiba tampang saya muncul di layar lebar itu! Dari shoot out, pelan-pelan mendekat sampai full-close up. Cukup lama saya dibegitukan --lebih dari tiga menit, saya kira... atau satu abad?-- sehingga saya jengah luar biasa. Berusaha pasang muka serius, jadinya merengut. Maunya senyum, malah kelihatan nyengir! Sudah itu kamera pelan-pelan bergerak turun, ganti menyorot name-tag di meja saya: "President of The Republic of Indonesia"!

Saat itulah saya jadi mengerti. Rupanya Presiden sengaja merancang siasat pengamanannya sendiri. Kalau ada sniper mengincar, pasti akan bingung:

"Apakah Presiden Indonesia mlungsungi?"  


Sebelah kiri: Kolonel Polisi Sutarman, ajudan Presiden. Sebelah kanan: Kolonel TNI Sabar Yudho, Ajudan Presiden. Kalau di kiri-kanan Ajudan Presiden, masa sih yang di tengah bukan Presiden?


Kalau-kalau ada yang tidak paham: "MLUNGSUNGI" adalah istilah Jawa untuk "ganti kulit", seperti kemampuan yang ada pada beberapa spesies reptil (ular), serangga (ulat sutera), kepiting, dan lain-lain.

     Baca Juga
oleh Terong Gosong  pada 15 Desember 2010
KumpulBlogger.com
Baca Selengkapnya...

KEPERLUAN PENTING (THE TERONG GOSONG: RELOADED)



Kyai Bisri Mustofa menyebar sejumlah santri utusan untuk menemui kyai-kyai Rembang. Mereka ditugasi mengundang para kyai itu agar hadir di kediaman Kyai Bisri pada waktu yang ditentukan, untuk suatu KEPERLUAN PENTING.

Maka terjadilah, pada waktu yang ditentukan itu para kyai berkumpul di Leteh, Rembang.

"Keperluan penting apa ini, 'Sri?" Mbah Kyai Ma'shum bertanya.

"Nanti lah, 'Yi" jawab Kyai Bisri, "dahar-dahar dulu..."

Santri mengusung nampan nasi dengan sambal terong di tengahnya, menyajikannya di hadapan para kyai.

"Monggo... monggo..." Kyai Bisri mempersilahkan.

Para kyai pun kembul-terong-gosong dengan nikmat sekali, diselingi obrolan-obrolan ringan dan guyon-guyon nostalgia mengenang waktu masih mondok. Tanpa terasa, nampan licin tandas dan semua merasa kenyang.

Dihiasi kepulan asap rokok yang berlenggak-lenggok, para kyai meneruskan obrolan dan candaan mereka, ditingkahi gelak-tawa yang gayeng sekali.... hingga akhirnya salah-seorang kembali teringat,

"Lho... ini keperluan pentingnya kok nggak mulai-mulai?"

"Iya, 'Sri", Mbah Ma'shum pun menimpali, "sekarang sudah makan, lekaslah... keperluan pentingnya apa?"

Menyedot rokok dalam-dalam dan menghembuskannya dengan nikmat, Kyai Bisri menjawab,

"Kumpul-kumpul silaturrahim begini ini masa tidak penting?"

      Baca juga
 




oleh Terong Gosong pada 13 Desember 2010
 KumpulBlogger.com
Baca Selengkapnya...

ALAMAT (THE TERONG GOSONG: RELOADED)

Seorang Kiyai Kampung mendapat surat dari seorang teman yang tingal di kota lain dan sudah lama tak bertemu. Dalam surat yang ditulis dengan tulisan Arab pegon itu dikabarkan bahwa si teman lama sedang sakit keras dan amat rindu kepada kyai kampung kita.

"Dia ini teman tunggal-bantal waktu di pondok", batin Pak Kiyai, "aku harus menengoknya".

Dia simpan baik-baik surat itu, karena didalamnya tertulis alamat rumah temannya:

جالان "سيد و كان" نومر 13 فكالوعان

(Jalan Sedokan nomer 13 Pekalongan)

Sampai di terminal bis kota Pekalongan, Pak Kiyai segera menghampiri tukang becak.

"Pak", ia menyapa, "tahu Jalan 'Sayyid Wa Kaana'?"




oleh Terong Gosong pada 11 Desember 2010
kumpulblogger.com
Baca Selengkapnya...

BELAJAR TAWADHUK


Mumpung weekend, upload cerita lagi. Ini kisah terpendam selama duapuluh lima tahun.

Baru seminggu di Rembang, sudah beberapa orang yang diyakini sebagai rijalullah, saya temui. Beberapa nama dapat disebut, antara lain Mbah Muslim Klaten, Mbah Shobib Jepara, Habib Luthfie Pekalongan, Mbah Syahid Kemadu, dan lain-lain. Namun satu yang membuat hati ini tak kunjung tenteram yaitu, saya belum bertemu dengan Mbah Hambali Lasem. Saya belum pernah berjumpa beliau sama sekali.

Mbah Hambali mengingatkan saya kepada almaghfurlah Gus Miek. "Kebiasaan" beliau mengunjungi tempat pelacuran, terminal, dan sebagainya, pun sangat mirip. Konon, bahkan, Rhoma Irama pun berguru kepadanya.

Salah satu kisah yang secara singkat diceritakan kepada saya adalah sewaktu beliau mengajak beberapa PSK ke salah satu makam (kapan dan di mananya saya lupa). Pada saat semua telah berkumpul mengelilingi kuburan tersebut, atas izin Allah, terkuaklah siksa kubur di hadapan mereka. Api siksa yang menyala dan menggelegak itu, seketika membuat para PSK ketakutan dan, selanjutnya, bertobat. Juga beberapa cerita tentang karomah lainnya. Wallahu a'lam.

Itu baru sepenggalan dari segudang kisah tentang Mbah Hambali. Tak dapat dipungkiri, itu cukup membuat saya sungguh ingin berjumpa dengan beliau. Berhari-hari perasaan itu memenuhi hati.

Hingga suatu hari, seorang santri tergopoh-gopoh menemui saya di masjid.

"Panjenengan ditimbali Yai. Wonten Mbah Hambali (Anda dipanggil Kiyai. Ada Mbah Hambali)," begitu berita yang disampaikannya.

Seperti mendengar berita besar, saya melompat dan bergegas menuju rumah, ingin segera menemuinya.

Di ruang tamu, saya jumpai Lik Wawang (Munawar Muslih, Allahumma yarham), paman saya, bersama seorang tamu laki-laki. Begitu hening. Berusaha sekuat tenaga mematut sikap, dengan mundhuk-mundhuk layaknya santri yang baik, saya menghampirinya. Sekira dalam jangkauan lengan, tangan saya ulurkan untuk bersalaman, cium tangan. Sangat takzim. Sementara sang tamu dengan sopan dan cenderung sungkan, membalas uluran tangan saya, lalu cepat-cepat menariknya lagi. Meski demikian, hidung saya masih sempat merasakan sentuhan punggung tangannya.

Lik Wawang memperhatikan saya dengan tersenyum. Oh, bukan. Rupanya dia menahan tawa. Apakah sikap saya masih wagu? Tak apalah. Saya mencoba tak menggubrisnya.

Beberapa detik berikutnya, terdengar suara cekikikan ditahan-tahan. Itu pun, saya pikir, bisa tentang apa saja, toh? Masa bodohlah.

Saya melintas di depan Lik Wawang. Tiba-tiba dia berbisik, "Mbah Hambali di dalam kamar bersama Lik Wahab (KH Abd. Wahab Chafidz)."

Mak pyorrrrrr.......! Biji mata saya hampir keluar semua.

Pantas, kok bau trasi.





oleh Adib Machrus pada 11 Desember 2010
kumpulblogger.com
Baca Selengkapnya...

SUWUK BAROKAH

As Syaikh Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazzali Ath Thusi dalam Minhajul ‘Abidin menerangkan bahwa bagi seorang ’abid yang berhasil menaklukkan segala tantangan-tantangan (‘aqabaat) pendakiannya, Allah menjanjikan 40 macam karunia: 20 diberikan di akhirat, 20 lagi diberikan di dunia. Diantara dua puluh yang diberikan di dunia adalah: Allah menjadikan barokah dalam ucapan-ucapannya.

Beruntunglah kita mewarisi dari para ’abidin ijazah-ijazah mustajabah berupa hizib-hizib, berbagai shighat shalawat, suwuk dan sebagainya, yang benar-benar kita buktikan manfaat dan barokahnya. Dibawah ini contoh beberapa ijazah suwuk dari ayah saya, Kyai Kholil Bisri, dari ayahnya, Kyai Bisri Mustofa, dari guru dan mertuanya, Kyai Kholil Harun:
  • Suwuk untuk menyapih:
    بسم الله الرحمن الرحيم ﭼرماراتو سي بايـي لالييا دودوه سوسو إيليعا ﺴﯕﺎ لان باﭘﻮ ادم اسرﭪ ساعكيع الله لا اله الاالله محمد رسول الله
  • Suwuk munthoh (bayi rewel, nangis terus):
    بسم الله الرحمن الرحيم ڟيري ڟيري جاباع بايـي كدادين ساعكيع باﭘوني ﭬـلي ﭼﭪ منع ﭼﭪ منع ﭼﭪ منع لا اله الا الله محمد رسول الله


Formula suwuk-suwuk itu seperti asal bunyi tapi toh istijabahnya tak dapat dipungkiri.

Memperhatikan formula suwuk-suwuk itu, ayah saya berkesimpulan bahwa suwuk itu apa pun bunyinya asal diawali dengan
بسم الله الرحمن الرحيم
dan diakhiri dengan
لا اله الا الله محمد رسول الله
Maka insyaallah mustajab.

Kebetulan, beberapa waktu setelah PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) berdiri (1998), isteri Gus Zen (KH Zainuddin Maftuhin), Lasem, hendak melahirkan. Gus Zen gelisah karena proses kelahiran itu begitu sulit. Sudah lama berkontraksi tidak keluar-keluar juga. Dengan pikiran suntuk, Gus Zen datang kepada ayah saya mewadulkan kesulitan itu. Maka, ayah saya pun mengijazahkan suwuk dibawah ini:

بسم الله الرحمن الرحيم

Hé, jabang bayi, yèn kowé kêpingin wêruh gêbyaré Pékabé, ndang mêtuha
لا اله الا الله محمد رسول الله


Terbukti, setelah ijazah itu dilaksanakan, si bayi keluar dengan mudah.

Sementara itu, Kyai Abdul Hamid Baidlowi, Lasem, pun rupanya punya gagasan yang sama. Ketika seorang tetangga meminta srana untuk isterinya yang sakit, Kyai Hamid memberinya air yang sudah ditiup dengan suwuk begini:

بسم الله الرحمن الرحيم

Mati kêrsaning Allah, urip kêrsaning Allah
لااله الا الله محمد رسول الله


Tak berapa lama ada kabar isteri si tetangga sembuh.

Kyai Hamid semakin mantap. Ketika di kali lain orang minta srana untuk sapinya yang sakit, Kyai Hamid memberinya air dengan suwuk:

بسم الله الرحمن الرحيم

Urip kêrsaning Allah, mati kêrsaning Allah
لا اله الا الله محمد رسول الله


Sapi itu mati.

_________________________________________________
Catatan tambahan:
  1. Pengamalan ijazah suwuk-suwuk diatas harus dengan kaifiyyah tertentu.
  2. Untuk memperoleh ijazah tentang kaifiyyah-kaifiyyah itu, harus menemui saya dengan membawa… mahar! Hehehe….







oleh Yahya Cholil Staquf  pada 10 Agustus 2009
kumpulblogger.com
Baca Selengkapnya...

ANTARA ALI BIN ABI THALIB DAN ALI BIN MA’SHUM


Mbah Kyai Ali Ma’shum rahimahullah terlahir dengan kecerdasan istimewa. Pada usia remaja, beliau sudah menjadi amat ahli dalam bahasa dan sastra Arab. Kefashihan beliau sulit dicari tandingannya. Pada usia 18 tahun, sewaktu mondok di Termas, Pacitan, dibawah asuhan Kyai Dimyathi rahimahullah, Kyai Ali diberi hak untuk mengajar di Masjid pondok. Suatu previles yang tidak didapatkan bahkan oleh santri-santri yang jauh lebih senior. Bukan karena Kyai Ali putera seorang kyai besar (Mbah Kyai Ma’shum, Lasem). Dari segi nasab, Kyai Ali masih “kalah bobot” dibanding, misalnya, Kyai Abdul Hamid (Pasuruan) yang pada waktu itu juga mondok bareng di Termas. Previles itu diberikan sebagai pengakuan atas ke’aliman Kyai Ali. Di kemudian hari, Kyai Ali Ma’shum pun diakui sebagai kyai ahli Ilmu Tafsir paling otoritatif pada masanya.

Tidak heran jika, sesudah trio pendiri Nahdlatul Ulama (Hadlratusy Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Abdul Wahab Hasbullah dan Kyai Bisri Syansuri) “habis” dengan wafatnya Kyai Bisri Syansuri, semua kyai yang hadir dalam Kombes NU 1982 di Kaliurang, Yogyakarta, secara aklamasi menyetujui usul Kyai Achmad Siddiq (Jember) untuk mendaulat Kyai Ali Ma’shum sebagai Rais ‘Aam menggantikan Kyai Bisri Syansuri. Semula Mbah Ali menolak. Tapi semua kyai mendesak beliau bertubi-tubi. Dari pagi hingga malam Gus Dur dan Gus Mus menunggui di kediaman beliau di Krapyak, dengan tekad tak akan beringsut sebelum beliau menyatakan kesediaan. Dengan berlinangan air mata, Mbah Ali akhirnya menyerah.

“Aku tak mau jabatan”, beliau berkata, “tapi agama melarangku menghindari tanggung jawab…”

Selanjutnya, Kyai Ali Ma’shum pun menjadi patron dari gairah pembaharuan NU. Beliau pelindung utama —kalau bukan satu-satunya— anak-anak muda yang getol dengan pembaharuan, ketika gagasan-gagasan kreatif mereka memanaskan telinga kebanyakan kyai karena dianggap terlampau berani.

Barangkali orang masih ingat, bagaimana Kyai As’ad Syamsul Arifin, Situbondo, suatu ketika merasa tak kuat lagi menenggang “keliaran” Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU sehingga hubungan diantara keduanya tegang luar biasa. Kyai As’ad memanggil Kyai Muhith Muzadi ke Situbondo.

“Tolonglah”, beliau berujar kepada Kyai Muhith, “sampiyan ingatkan Abdurrahman itu… dia sudah kelewatan”.

Kyai Muhith angkat tangan.

“Kok saya to, ‘Yai” jawabnya, “mestinya kan yang sepuh-sepuh seperti panjenengan yang lebih berhak…”

“Wah, saya ’dak biisa… yang bisa itu Kyai Ali Ma’sum!”

Pada kesempatan lain, Kyai As’ad mengundang kyai-kyai berkumpul di Surabaya. Mbah Kyai Ali Ma’shum berhalangan, hanya mengutus Abdurrahman, seorang santri Krapyak asal Pasuruan, membawa surat beliau untuk para kyai yang hadir di Surabaya.

“Kalau rapat kyai-kyai itu sudah selesai, serahkan surat ini kepada Kyai As’ad dan sampaikan bahwa saya minta surat ini dibacakan didepan majlis”. Demikian pesan Mbah Ali.

Rapat itu rupanya membahas Gus Dur dengan segala kembelingannya, sehingga akhirnya kyai-kyai sepakat untuk membuat petisi, menuntut Gus Dur mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU.

Abdurrahman Pasuruan patuh, begitu rapat hendak ditutup, ia beranikan diri menyerobot kehadapan Kyai As’ad untuk menyerahkan surat titipan Mbah Ali berikut pesan beliau. Surat yang kemudian benar-benar dibaca didepan majlis itu ternyata berisi pernyataan tegas bahwa Mbah Ali menolak pemberhentian Gus Dur dari jabatannya. Kyai As’ad tak punya pilihan.

“Kalau Kyai Ali Ma’shum ’dak setuju… saya ’dak berani…”

Keputusan rapat pun batal.

Sebagai Rais ‘Aam, walaupun hanya separuh masa bakti (1982 – 1984), Mbah Kyai Ali Ma’shum berhasil mengantarkan NU melewati masa transisi dari NU-politik ke NU-kultural. Perjalanan menuju deklarasi “Kembali ke Khittah NU 1926” pada Muktamar Situbondo (1984) berhutang sepenuhnya pada jasa kepemimpinan beliau. Itu memang bukan perjalanan yang mudah. Di tengah-tengahnya, konflik besar yang mengguncang antara kubu kyai-kyai dan kubu para politisi (Situbondo versus Cipete) harus dilalui dengan segala pahit-getirnya. Sampai-sampai seorang kyai muda berani melontarkan keluhan berbau protes ke hadapan Mbah Ali.

“Selama kepemimpinan tiga Rais ‘Aam sebelumnya, NU adem-ayem, bersatu penuh harmoni”, kata kyai muda itu, “tapi setelah panjengan jadi Rais ‘Aam… kok terjadi perpecahan begini?”.

Mbah Ali tersenyum bijak.

“Bagus sekali kamu bertanya begitu”, ujar beliau, “pertanyaanmu itu persis yang dilontarkan orang kepada Sayyidina ‘Ali”.

Maka Mbah Ali pun meriwayatkan keluhan orang kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, bahwa pada masa kepemimpinan tiga Khulafa Ar Rasyidin sebelum beliau (Saadaatina Abu Bakar, Umar ibn Al Khatthab dan ‘Utsman ibn ‘Affan radliyallahu ‘anhum) tidak terjadi perpecahan ummat seperti pada masa kekhalifahan Sayyidina ‘Ali.

Bagaimana jawaban Sayyidina ‘Ali?

“Pada masa beliau bertiga itu, yang dipimpin adalah orang-orang macam aku, sedangkan sekarang ini yang kupimpin adalah orang-orang macam kamu!!”







oleh Yahya Cholil Staquf  pada 14 Agustus 2009
kumpulblogger.com
Baca Selengkapnya...

Artikel Terbaru

Tukeran link

Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali Penyejuk Hati