*اللهم صلى على سيدنامحمد * اللهم صلى على سيدنامحمد * اللهم صلى على سيدنامحمد *
Tiga sifat manusia yang merusak adalah, kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan. – Nabi Muhammad Saw

Recent Coment

Padamnya Rasa Cemburu

Cemburu asal tdk berlebihan merupakan salah satu sifat terpuji yg harus dimiliki pasangan suami istri. Sayang kerusakan moral atas nama modernitas telah mengikis rasa cemburu itu. Walhasil pintu perselingkuhan pun terbuka lebar hingga berujung pada runtuh bangunan rumah tangga.

Banyak kita jumpai fenomena di mana seorang suami tdk lagi merasa berat hati bila melihat istri keluar rumah berdandan lengkap dgn beraneka polesan make-up di wajah. Sang istri datang ke pesta ke pusat perbelanjaan ataupun ke tempat kerja hanya dgn pakaian ‘sekedarnya’ yg memperlihatkan auratnya. tdk cuma itu keluar istri dari rumah pun seringkali hanya ditemani sopir pribadinya.

Hati suami seakan tdk tergerak. Darah pun seolah tdk mendidih melihat semua itu. Justru terselip rasa bangga bila istri dapat tampil cantik di hadapan banyak orang. Parah lagi dia tetap merasa tenang ketika ada lelaki lain yg mendekati istri dan berbicara dgn nada akrab. Bahkan sekali lagi dia merasa bangga bila lelaki lain itu mengagumi kecantikan istrinya.

Yang ironis sang suami dgn semua itu kemudian memandang diri sebagai seorang yg berpikiran maju moderat penuh pengertian dan mengikuti perkembangan jaman. Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un.
Kebobrokan akhlak yg sangat parah pun menimpa tatkala ghirah itu hilang… tatkala bara cemburu itu padam… Seorang suami tdk lagi memiliki ghirah terhadap istri tdk ada rasa cemburu yg membuat dia menjaga istri dgn baik. Menyimpan dlm istana yg mulia agar tdk terjamah tatapan mata dan sentuhan tangan yg tdk halal… Tidak ada lagi rasa cemburu di hati yg dapat mendorong utk menjaga istri agar tdk melakukan hal-hal yg dilarang Allah dan Rasul-Nya agar tdk melakukan pelanggaran akhlak dan moral. Bahkan dia sendiri terjerembab jatuh dlm jurang kenistaan.

Ghirah yg Hilang
Bila kita bandingkan kenyataan yg kita dapati pada hari ini dan kisah masa lalu mk yg terucap hanyalah kata rindu rindu kepada masa lalu. Betapa orang2 dahulu begitu menjaga wanita mereka. Tidak mereka biarkan wanita mereka terlihat oleh mata-mata yg tdk halal apalagi terkena sentuhan. Merupakan suatu aib bagi mereka bila wanita keluar rumah tanpa memakai kain penutup seluruh tubuhnya. Suatu cela bagi mereka bila ada lelaki lain berbicara dgn wanita mereka.

Mereka lazimkan wanita utk mengenakan perhiasan rasa malu dan ‘iffah . Perbuatan seperti itu bukan sekedar tradisi dan budaya suatu masyarakat atau bangsa tertentu. Namun demikianlah yg diinginkan dlm syariat agama yg mulia ini. Dengan ghirah ini kemuliaan mereka pun tetap terjaga dan akhlak mereka terpelihara. Namun ketika ghirah ditanggalkan dan wanita dibiarkan keluar dari rumah tanpa rasa malu terjadilah apa yg terjadi. Fitnah dan kerusakan moral yg tdk terkira. Nabi  jauh sebelum telah memperingatkan:

“Sesungguh dunia ini manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian sebagai pengatur di dlm dgn turun temurun lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. mk hati-hatilah kalian dari dunia dan hati-hatilah kalian dari wanita krn awal fitnah yg menimpa Bani Israil adl pada wanitanya.”
Jaman memang telah berubah. Mayoritas manusia semakin jauh dari akhlak yg lurus. Rasulullah  bersabda:
“Tidak datang kepada kalian suatu jaman kecuali jaman setelah lbh jelek dari hingga kalian bertemu dgn Tuhan kalian.”

Ghirah Seorang Suami Menurut Tuntunan Islam
Di dlm agama yg mulia ini seorang suami dituntut utk memiliki ghirah atau rasa cemburu kepada istri sehingga ia tdk menghadapkan istri kepada perkara yg mengikis rasa malu dan mengeluarkan dari kemuliaan.
Sa’ad bin ‘Ubadah z pernah berkata dlm mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya:

“Seandai aku melihat seorang laki2 bersama istriku niscaya aku akan memukul laki2 itu dgn pedang ..”
Mendengar penuturan Sa‘ad yg sedemikian itu tidaklah membuat Nabi  mencela bahkan beliau bersabda:
“Apakah kalian merasa heran dgn cemburu Sa`ad? Sungguh aku lbh cemburu daripada Sa`ad dan Allah lbh cemburu daripadaku.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata: “Dalam hadits Ibnu ‘Abbas yg diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad Abu Dawud dan Al-Hakim disebutkan bahwa tatkala turun ayat:
“Dan orang2 yg menuduh wanita baik-baik berzina kemudian mereka tdk dapat menghadirkan empat saksi mk hendaklah kalian mencambuk mereka sebanyak 80 cambukan dan jangan kalian terima persaksian mereka selama-lamanya.”

Berkatalah Sa‘ad bin ‘Ubadah: “Apakah demikian ayat yg turun? Seandai aku dapatkan seorang laki2 berada di paha istriku apakah aku tdk boleh mengusik sampai aku mendatangkan empat saksi? Demi Allah aku tdk akan mendatangkan empat saksi sementara laki2 itu telah puas menunaikan hajatnya.” Mendengar ucapan Sa‘ad Rasulullah  bersabda: “Wahai sekalian orang2 Anshar tidakkah kalian mendengar apa yg diucapkan oleh pemimpin kalian?”. orang2 Anshar pun menjawab: “Wahai Rasulullah janganlah engkau mencela krn dia seorang yg sangat pencemburu. Demi Allah dia tdk ingin menikah dgn seorang wanita pun kecuali bila wanita itu masih gadis dan bila dia menceraikan seorang istri tdk ada seorang laki2 pun yg berani utk menikahi bekas istri tersebut krn cemburu yg sangat.” Sa‘ad berkata: “Demi Allah sungguh aku tahu wahai Rasulullah bahwa ayat ini benar dan datang dari sisi Allah akan tetapi aku cuma heran.”

Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq c bertutur tentang diri dan kecemburuan suaminya: “Az-Zubair menikahiku dlm keadaan ia tdk memiliki harta dan tdk memiliki budak. Ia tdk memiliki apa-apa kecuali hanya seekor unta dan seekor kuda. Akulah yg memberi makan dan minum kudanya. Aku yg menimbakan air untuk dan mengadon tepung utk membuat kue. Karena aku tdk pandai membuat kue mk tetangga-tetanggaku dari kalangan Anshar-lah yg membuatkan mereka adl wanita-wanita yg jujur. 

Aku yg memikul biji-bijian di atas kepalaku dari tanah milik Az-Zubair yg diserahkan oleh Rasulullah  sebagai bagian dan jarak tempat tinggalku dgn tanah tersebut 2/3 farsakh1. Suatu hari aku datang dari tanah Az-Zubair dgn memikul biji-bijian di atas kepalaku mk aku bertemu dgn Rasulullah  beserta sekelompok orang dari kalangan Anshar. Beliau memanggilku kemudian menderumkan unta utk memboncengkan aku di belakangnya2. Namun aku malu utk berjalan bersama para lelaki dan aku teringat dgn Az-Zubair dan kecemburuan sementara dia adl orang yg sangat pencemburu. 

Rasulullah  mengetahui bahwa aku malu mk beliau pun berlalu. Aku kembali berjalan hingga menemui Az-Zubair. Lalu kuceritakan padanya: ‘Tadi aku berjumpa dgn Rasulullah  dlm keadaan aku sedang memikul biji-bijian di atas kepalaku ketika itu beliau disertai oleh beberapa orang shahabatnya. Beliau menderumkan unta agar aku dapat menaiki namun aku malu dan aku tahu kecemburuanmu’.”

Bukanlah makna ghirah atau cemburu itu dgn selalu berprasangka buruk kepada istri sehingga selalu mengintai siang dan malam guna mencari-cari kesalahannya. Allah  berfirman:
“Jauhilah oleh kalian kebanyakan dari prasangka krn sebagian prasangka itu dosa….”
Rasulullah  juga bersabda:
“Hati-hati kalian dari prasangka3 krn prasangka itu adl pembicaraan yg paling dusta.”

Ghirah Menyaring Kejelekan
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t berkata bara dan panas ghirah ini akan menyaring kejelekan dan sifat tercela sebagaimana emas dan perak dibersihkan dari kotoran yg mencampurinya. orang2 mulia dan tinggi harga diri pasti memiliki ghirah yg besar terhadap diri dan orang2 yg dekat dengan juga terhadap orang lain secara umum. Karena itulah Nabi adl orang yg paling memiliki ghirah terhadap umatnya. Dan ghirah Allah  lbh dibanding beliau . Rasulullah bersabda:

“Tidak ada satupun yg lbh ghirah daripada Allah. Karena ghirah-Nya inilah Dia mengharamkan perbuatan keji baik yg tampak maupun yg tersembunyi.”
Ibnul Qayyim juga mengatakan: “Pokok dari agama ini adl ghirah mk siapa yg tdk memiliki ghirah berarti ia tdk memiliki agama. Ghirah ini akan melindungi hati sehingga terlindung pula anggota badan lain tertolaklah dengan segala perbuatan jelek dan keji. Sementara tdk ada ghirah menyebabkan mati hati hingga anggota badan lain pun ikut mati akibat tdk ada penolakan terhadap perbuatan jelek dan keji.”

Awal Runtuh Ghirah
Hilang ghirah dari lubuk hati seorang insan disebabkan oleh banyak hal di antara sebab terbesar yg bisa kita saksikan adalah:

1. Kebanyakan mereka berpaling dari mempelajari agama yg agung ini yg dengan Allah memuliakan kita setelah sebelum kita hina. Namun ketika ni’mat yg agung ini disia-siakan dan manusia enggan mengikuti petunjuk Rasul yg menyampaikan agama ini mereka kembali terpuruk hina dina di hadapan umat lainnya. Sehingga mereka merasa minder bila tdk mengikuti orang2 kafir. Sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta mereka terus mengikuti jejak orang2 kafir tersebut. dlm keadaan mereka menyangka bahwa itu adl peradaban dan kemajuan padahal sebenar hal itu adl kehinaan dan kehancuran. Kenyataan yg demikian ini telah disampaikan oleh Rasulullah jauh sebelum beliau bersabda:

“Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti sunnah orang2 sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta hingga seandai mereka masuk ke dlm lubang dhabb kalian pun akan memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah apakah mereka itu orang2 Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi ?”

2. Termasuk perkara yg menyebabkan hilang ghirah dlm dada kaum muslimin adl banyak fitnah dan perubahan yg mereka terima lalu ditelan mentah-mentah oleh hati-hati mereka sehingga menjadi bagian darinya. Akibat terbaliklah fitrah mereka. dlm pandangan mereka yg mungkar adl ma‘ruf dan yg ma‘ruf adl mungkar. Bila ada yg membawakan kebenaran kepada mereka sementara kebenaran itu menyelisihi kebiasaan mereka mk mereka menganggap hal itu jumud terbelakang dan menghambat kemajuan. Membebaskan wanita keluar dari rumah dgn segenap keindahan adl termasuk kemajuan dlm pikiran kotor mereka.

3. Hal lain yg membuat seorang suami menanggalkan ghirah- adl persangkaan yg keliru. Dia menyangka bahwa rasa malu dan menutup tubuh bagi wanita adl bagian dari masa lalu sehingga telah ketinggalan jaman bila tetap dikenakan di masa modern ini. Ia tdk ingin mengekang istri dgn kebiasaan yg sudah usang dimakan jaman bahkan ia ingin menunjukkan kepada istri dan kepada orang lain bahwa ia seorang laki2 yg moderat dan selalu mengikuti kemajuan.

4. Tenggelam dlm lumpur dosa termasuk salah satu sebab padam api ghirah di dlm hati dan hal ini merupakan hukuman atas dosa yg diperbuat.

Dari penjelasan yg kita dapatkan di atas pahamlah kita bahwa ghirah dlm batasan yg diperkenankan syariat merupakan sifat yg terpuji. Dengan ghirah ini seorang laki2 dapat menjaga istri dan mahram yg lain dari perbuatan yg melanggar syariat Allah . Sebalik tdk ada ghirah menyebabkan seorang suami membiarkan istri jatuh ke dlm lumpur noda dan dosa. Akibat kejelekan dan fitnah pun tersebar…

Betapa butuh kita utk kembali kepada aturan syariat yg mulia ini. Betapa perlu kita kembali menengok ke masa lalu yg sangat menjaga ghirah masa lalu yg sarat dgn penerapan ajaran agama yg mulia ini. Dan sungguh ini adl senandung kerinduan kepada masa lalu….
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab...
sumber:http://blog.re.or.id/padamnya-rasa-cemburu.htm


    
    Baca Juga :

1 komentar:

lulu mengatakan...

ooo saya baru tahu sebenernya cembeuru itu bagus yaaa...

memang semua yang berlebihan itu tidak baik ya mas =)

oia linknya sudah saya paasang silahkan di cek maaf kemaren sempet terbengkalai blognya =)

Artikel Terbaru

Tukeran link

Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali Penyejuk Hati